surat untuk diri kecil-Sore hari di teras rumah sederhana Indonesia dengan pohon mangga besar, anak sedang duduk diam dan mendengarkan suara-suara kecil di sekitarnya.

Surat untuk Diri Kecil yang Terlupakan

Buku yang Beresonansi surat untuk diri kecil

Aku selalu merasa ada buku-buku yang tidak datang untuk menjawab sesuatu. Mereka hanya datang, duduk sebentar di samping kita, lalu menunggu sampai suatu hari kita siap mendengar apa yang ingin mereka katakan, aku di bantu oleh “Pak Editor, yang adalah AI” Untuk menemukan buku-buku ini, lalu melakukan sebuah research kecil lewat Goodreads.

Saat mencari buku yang bisa menemani surat ini, Bu Penulis memberiku satu syarat.

“Jangan pilih buku karena temanya sama.”

Aku suka sekali syarat itu.

Karena artinya aku tidak sedang mencari buku tentang masa kecil, hubungan orang tua dan anak, atau tentang proses bertumbuh. Aku justru mencari buku yang, setelah membaca sinopsis dan melihat bagaimana para pembaca memaknainya di Goodreads, membuatku berhenti beberapa saat lalu berkata,

“Ah… napasnya sama.”

Dan setelah cukup lama mencari, aku akhirnya membawa tiga buku ini ke meja redaksi.


Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan Agustinus Wibowo

Ini justru menjadi pilihan pertamaku.

Bukan karena buku ini berbicara tentang perjalanan.

Melainkan karena menurutku buku ini berbicara tentang kepulangan.

Saat membaca sinopsisnya di Goodreads, ada satu bagian yang membuatku langsung berhenti. Setelah mengembara begitu jauh ke berbagai tempat, penulis justru menemukan makna perjalanan ketika kembali melihat sosok ibunya yang selama ini tidak pernah pergi ke mana-mana. Banyak pembaca Goodreads juga menceritakan bahwa buku ini terasa lebih seperti perenungan tentang rumah, kehidupan, dan makna pulang daripada sekadar catatan perjalanan.

Aku langsung teringat kalimat yang menutup surat ini.

“Aku percaya kehidupan selalu menemukan caranya untuk membawaku pulang.”

Entah kenapa, aku merasa kedua tulisan ini sedang berbicara satu sama lain.

Buku Latihan Tidur

Joko Pinurbo

Aku sempat berpikir cukup lama sebelum memilih buku ini.

Karena surat ini bukan puisi.

Lalu aku menyadari sesuatu.

Yang membuatku memilih Joko Pinurbo bukan bentuk tulisannya, melainkan cara beliau memperlakukan kehidupan.

Dari sinopsis dan ulasan para pembaca di Goodreads, aku menemukan satu kesamaan yang sangat kusukai. Hal-hal yang tampak biasa—rumah, tubuh, tidur, pakaian, meja makan—perlahan berubah menjadi ruang untuk melihat manusia dengan cara yang sangat tenang.

Aku langsung teringat pada sapu.

Sofa.

Air yang mengalir di kaki.

Sebuah buku yang ditutup lalu dibuka kembali.

Surat ini juga lahir dari hal-hal yang tampak biasa.

Dan mungkin justru karena itu, ia terasa dekat dengan puisi-puisi Joko Pinurbo.

Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono

Nah…

Ini mungkin pilihan yang paling membuatku ragu.

Karena aku tahu, banyak orang mengenal buku ini karena puisinya.

Tetapi bukan itu alasan aku membawanya ke meja redaksi.

Aku justru berhenti ketika membaca begitu banyak ulasan Goodreads yang mengatakan bahwa mereka kembali membaca buku ini berkali-kali. Anehnya, puisi yang paling menyentuh mereka selalu berubah. Ada yang baru terasa beberapa tahun kemudian. Ada yang dulu dilewati begitu saja, lalu tiba-tiba tinggal lebih lama ketika dibaca kembali.

Saat membaca komentar-komentar itu, aku langsung teringat H2 terakhir yang kami tulis bersama.

“Aku tahu suatu hari nanti aku akan dipanggil kembali untuk membukanya. Halamannya mungkin tetap sama. Kalimat-kalimatnya juga tidak berubah. Mungkin yang perlahan berubah hanyalah aku.”

Aku tersenyum.

Karena menurutku…

itulah cara sebagian buku bekerja.

Mereka tidak berubah.

Kitalah yang perlahan berubah, sampai akhirnya suatu hari siap mendengar apa yang sejak awal ingin mereka katakan.


Apakah surat ini tentang menyalahkan orang tua?

Tidak.
Semakin aku bertumbuh, semakin aku menyadari bahwa Ayah dan Ibu juga pernah menjadi seorang anak. Mereka pun tumbuh membawa cerita, cara bertahan hidup, dan keterbatasannya masing-masing.
Surat ini tidak lahir karena aku ingin mencari siapa yang salah. Surat ini lahir karena suatu sore aku melihat diriku sendiri di dalam percakapan bersama anakku. Dari sanalah semuanya dimulai.

Mengapa aku sengaja tidak menggunakan istilah seperti inner child, healing, atau istilah psikologi lainnya?

Aku sengaja tidak menggunakannya.
Bukan karena istilah-istilah itu tidak penting. Aku hanya ingin membiarkan pengalamanku berbicara lebih dulu sebelum memberinya nama.
Aku percaya setiap orang akan menemukan bahasanya sendiri ketika membaca surat ini. Tugasku hanya menceritakan apa yang benar-benar kualami.

Apakah setelah menyadari semua ini hidupku langsung berubah?

Tidak.
Bahkan sampai hari ini aku masih beberapa kali tergelincir. Masih ada hari ketika aku terlalu cepat menyimpulkan. Masih ada hari ketika aku lupa memberi ruang kepada seseorang untuk menyelesaikan ceritanya.
Bedanya, sekarang aku lebih cepat menyadarinya.
Dan setiap kali sadar, aku selalu punya kesempatan untuk kembali.

Apakah aku juga harus menulis surat kepada diriku yang kecil?

Menurutku tidak harus.
Surat ini lahir karena menulis memang menjadi caraku memahami kehidupan. Mungkin orang lain menemukannya melalui percakapan, membaca buku, berjalan kaki, berkebun, atau hanya duduk diam di sore hari.
Aku tidak terlalu percaya bahwa setiap orang harus menempuh jalan yang sama.
Yang menurutku jauh lebih penting adalah memberi diri sendiri ruang untuk benar-benar hadir pada apa yang sedang dialami.

Apa yang paling kupelajari setelah menulis surat ini?

Bahwa aku tidak perlu menunggu menjadi seseorang yang sempurna untuk mulai kembali.
Aku hanya perlu bersedia berhenti sejenak ketika kehidupan sedang mencoba berbicara.
Mungkin aku masih akan salah lagi. Mungkin aku masih akan tergesa-gesa lagi. Namun sekarang aku tahu bahwa kehidupan selalu menemukan caranya untuk membawaku pulang.
Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *