Memeluk tanpa Mencengkram|Wanita duduk di bangku jendela menatap taman sambil minum teh dalam suasana damai.

Memeluk Tanpa Mencengkeram

Ada percakapan yang selesai dalam beberapa menit, tetapi tinggal bertahun-tahun di dalam kepala.

Memeluk tanpa mencengkram, esai ini lahir dari salah satunya, tentang cinta, ruang, dan hal-hal yang baru bisa kupahami setelah berani duduk diam bersama diriku sendiri

Barangkali yang paling melelahkan bukanlah mencintai seseorang, melainkan perlahan kehilangan ruang untuk mendengar suara diri sendiri.

Ada Hari-Hari Ketika Aku Merasa Lelah Tanpa Tahu Alasannya

Belakangan ini aku sering merasa ada sesuatu yang berubah, meskipun aku sendiri tidak benar-benar tahu apa. Hari-hariku masih berjalan seperti biasa. Aku bangun di pagi hari, menyeduh kopi, membuka laptop, lalu mulai mengerjakan hal-hal yang memang harus diselesaikan. Sesekali aku berhenti untuk melihat halaman di luar jendela atau mengambil napas lebih panjang, sebelum kembali tenggelam dalam rutinitas yang sudah begitu akrab. Kalau ada yang bertanya apakah semuanya baik-baik saja, mungkin aku juga akan menjawab bahwa tidak ada masalah. Karena memang tidak ada sesuatu yang cukup besar untuk disebut sebagai masalah.

Justru itu yang membuatku bingung.

Tidak ada pertengkaran yang baru saja terjadi. Tidak ada kehilangan yang datang tiba-tiba. Tidak ada kabar buruk yang mengubah arah hidupku. Namun, setiap kali kesibukan mulai mereda dan rumah kembali tenang, aku seperti berhadapan dengan seseorang yang diam-diam sudah lama menungguku. Awalnya aku mengira itu hanya rasa lelah yang biasa. Aku mencoba tidur lebih awal, mengurangi pekerjaan, atau sekadar memberi jeda pada diriku sendiri. Tetapi setiap kali semuanya selesai, perasaan itu tetap ada, seolah-olah kelelahan yang kurasakan bukan berasal dari tubuh yang terlalu banyak bekerja.

Belakangan ini aku juga lebih sering duduk lebih lama setelah kopiku habis. Bukan karena sedang menikmati pagi atau mencari inspirasi untuk menulis. Aku hanya belum benar-benar ingin beranjak. Rasanya aneh ketika menyadari bahwa aku bisa begitu sibuk sepanjang hari, tetapi begitu canggung ketika akhirnya memiliki waktu untuk diriku sendiri.

Aku selalu mengira yang kubutuhkan hanyalah waktu untuk sendiri. Lucunya, ketika waktu itu akhirnya datang, aku justru tidak tahu harus melakukan apa dengannya.

Aku tidak langsung mencari jawaban. Mungkin karena untuk pertama kalinya aku merasa lelah menjelaskan semuanya dengan sesuatu yang terdengar masuk akal. Selama ini aku selalu punya alasan. Mungkin aku terlalu banyak bekerja. Mungkin aku hanya sedang jenuh. Mungkin ini hanya fase yang akan lewat dengan sendirinya. Namun semakin sering aku mengulang alasan-alasan itu, semakin terasa bahwa ada sesuatu yang tidak sedang kusentuh.

Sampai di titik itu, aku mulai bertanya pada diriku sendiri dengan cara yang berbeda. Bukan lagi, “Apa yang salah dengan hidupku?” tetapi, “Apa yang selama ini tidak benar-benar kudengarkan?” Aku belum tahu jawabannya.

Ada Percakapan yang Tidak Selesai Malam Itu

Ada satu malam ketika kami berbicara lebih lama dari biasanya sebelum tidur. Awalnya tidak ada yang berbeda. Kami hanya saling bercerita tentang hari yang baru saja lewat, tentang hal-hal kecil yang belakangan kami pikirkan, lalu sesekali tertawa mengingat sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu lucu. Percakapannya mengalir begitu saja, seperti banyak malam lain yang sudah kami lewati bersama.
Aku bahkan sudah lupa bagaimana urutan ceritanya. Yang masih kuingat justru suasananya. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan sedikit cahaya yang masuk dari balik tirai. Sesekali kami berhenti bicara beberapa detik, bukan karena kehabisan bahan obrolan, tetapi karena memang tidak semua jeda harus segera diisi dengan kata-kata. Ada kenyamanan dalam keheningan seperti itu, ketika kehadiran seseorang sudah cukup membuatmu merasa ditemani.

Di tengah percakapan itu, partnerku mengucapkan sebuah kalimat. Tidak ada penekanan. Tidak terdengar seperti nasihat. Ia mengatakannya begitu saja, seperti seseorang yang sedang membagikan sesuatu yang baru dipikirkannya. Aku masih sempat menanggapinya, lalu percakapan kami bergeser ke topik lain. Beberapa menit kemudian, kami saling mengucapkan selamat malam dan membiarkan hari itu berakhir seperti biasanya.

Kalau malam itu ada yang bertanya apakah ada sesuatu yang berbeda, mungkin aku akan menjawab tidak.

Namun beberapa hari setelahnya, aku mulai menyadari bahwa aku masih mengingat kalimat itu.

Bukan seluruh percakapannya.

Hanya satu kalimat.

Kalimat yang entah kenapa terus muncul di waktu-waktu yang tidak pernah kupilih. Saat sedang menyeduh kopi di pagi hari. Saat menunggu air mendidih. Atau ketika tiba-tiba aku terdiam beberapa detik di tengah pekerjaan yang sebenarnya sudah sangat biasa.


Aku tidak sedang berusaha mengingatnya.

Justru kalimat itu yang diam-diam terus menemukan jalannya kembali.

Dua Kata yang Terus Tinggal di Kepalaku

Setelah beberapa hari, aku mulai menyadari bahwa aku masih mengingat kalimat itu. Bukan seluruh percakapannya, bahkan tidak setiap kata yang kami ucapkan malam itu. Hanya satu bagian kecil yang terus kembali, seolah-olah ia sedang menunggu waktunya sendiri untuk dipahami. Lucunya, aku tidak pernah sengaja mengingatnya. Ia muncul begitu saja di sela-sela rutinitas yang sama seperti biasanya; saat menuang air panas ke dalam cangkir, melipat pakaian, atau ketika pikiranku tiba-tiba melayang ke malam itu tanpa alasan yang benar-benar bisa kujelaskan.

Aku belum mencoba mencari maknanya. Mungkin karena saat itu aku belum merasa perlu. Ada kalanya sebuah percakapan selesai ketika malam berakhir, tetapi ada juga kalimat-kalimat yang diam-diam memilih tinggal lebih lama. Bukan karena ia lebih indah, melainkan karena ada bagian dari diri kita yang belum selesai mendengarkannya. Saat itu aku belum tahu, kalimat malam itu termasuk yang mana.

Namun entah kenapa, aku juga tidak benar-benar bisa mengabaikannya. Ada rasa penasaran yang pelan-pelan muncul, bukan karena aku merasa ia pasti benar, tetapi karena aku belum benar-benar mengerti apa yang ia maksud. Setiap kali ada sesuatu yang membuatku resisten, aku mencoba memberi diriku sedikit ruang sebelum memutuskan. Bukan untuk membuktikan bahwa aku benar, melainkan karena selalu ada kemungkinan bahwa ada sesuatu yang belum sempat kulihat.

Malam itu aku tidak menemukan jawaban apa pun. Aku hanya membawa satu pertanyaan yang belum ingin kulepaskan.

Cerita yang Selama Ini Kutulis Sendiri

Rasa penasaran itu akhirnya membawaku kembali pada diriku sendiri. Bukan untuk mencari siapa yang benar dalam percakapan kami malam itu, melainkan untuk melihat bagaimana selama ini aku memahami kasih.

Aneh rasanya. Selama bertahun-tahun aku tidak pernah benar-benar bertanya dari mana keyakinan itu berasal. Ia terasa begitu alami, seolah-olah memang begitulah cara kasih bekerja. Aku menerimanya begitu saja, seperti seseorang yang tumbuh bersama sebuah bahasa hingga lupa bahwa bahasa itu pernah dipelajari.

Baru ketika aku mencoba menoleh ke belakang, yang muncul di ingatanku bukanlah nasihat panjang atau kalimat-kalimat yang terdengar bijaksana. Yang datang justru potongan-potongan kehidupan yang dulu terasa biasa.

Aku teringat ibuku yang selalu berusaha memberikan bagian ekor ikan goreng kepadaku. Beliau menghabiskan sisa makanan yang kutinggalkan bersama adikku. Ada hari-hari ketika tubuhnya sedang tidak baik-baik saja, tetapi ia tetap bangun karena masih ada rumah yang perlu dijalani dan anak-anak yang perlu ditemani. Waktu itu aku tidak pernah menganggap semua itu sebagai pelajaran tentang kasih. Itu hanya kehidupan kami sehari-hari.

Aku juga tidak pernah bertanya apa yang ada di dalam pikirannya setiap kali melakukan semua itu. Mungkin memang bukan bagianku untuk mengetahui. Aku bukan cenayang yang bisa membaca gerak-gerik dan keriuhan isi kepala seseorang. Yang kulihat hanyalah seorang ibu yang setiap hari berusaha menjalani perannya sebaik mungkin, dengan kemampuan yang ia miliki pada saat itu.

Baru sekarang aku menyadari bahwa mungkin cerita tentang kasih yang selama ini hidup di dalam diriku tidak lahir dari satu percakapan atau satu nasihat. Ia tumbuh pelan-pelan dari hal-hal kecil yang kulihat setiap hari, sampai akhirnya menjadi sesuatu yang terasa begitu wajar sehingga aku tidak pernah sadar bahwa aku sedang membawanya ke setiap hubungan yang kujalani.

Ruang yang Tidak Pernah Kuberikan Kepada Diriku

Aku belum tahu ke mana semua proses ini akan membawaku. Mungkin masih akan ada banyak hal yang belum kupahami, juga pertanyaan-pertanyaan yang belum menemukan jawabannya. Namun untuk pertama kalinya, aku merasa tidak perlu lagi terburu-buru mencarinya.

Selama ini, aku selalu berpikir bahwa setiap pertanyaan harus segera menemukan ujungnya. Kini aku mulai belajar bahwa tidak semua hal meminta jawaban secepat itu. Ada pertanyaan yang justru mengajak kita berjalan lebih pelan, agar kita sempat melihat sesuatu yang selama ini luput dari perhatian.

Mungkin, untuk saat ini, itu sudah cukup. Tetap berjalan, tetap membuka ruang bagi setiap pertanyaan, lalu membiarkannya menunjukkan jalannya sendiri ketika waktunya tiba.

Jika Kamu Ingin Tinggal Sedikit Lebih Lama Bersama Pertanyaan Ini

Tulisan ini berakhir di tempat aku sedang berdiri hari ini. Kalau setelah membacanya kamu masih ingin tinggal sedikit lebih lama bersama pertanyaan-pertanyaan yang muncul, tiga buku di bawah ini terasa memiliki napas yang beresonansi dengan perjalanan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *